Putus Mata Rantai Covid-19, Begini Upaya di Pasar Tradisional

0
90
Salah satu kegiatan sosialisasi pemakaian masker di pasar. Sosialisasi seperti ini terus dilakukan di pasar yang dikelola PD Pasar Surya, termasuk pula pengecekan suhu tubuh baik kepada pedagang dan pembeli.

Surabaya – Pemkot Surabaya terus berjuang memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Salah satunya dengan menata ulang pasar tradisional yang disesuaikan dengan protokol penanganan Covid-19.

Langkah yang dilakukan mulai membagi-bagikan masker dan hand sanitizer untuk pedagang, pengecekan suhu tubuh, memasang wastafel dan bilik sterilisasi hingga penerapan physical distancing di lingkungan pasar. Pemkot Surabaya juga meminta pedagang satu dengan yang lain memberi jarak dagangannya dan memastikan pembeli tidak kontak fisik secara langsung dengan pedagang.

Kepala Bagian Administrasi Perekonomian dan Usaha Daerah, Pemkot Surabaya, Agus Hebi Djuniantoro mengatakan, setiap hari ia bersama jajarannya dan PD Pasar Surya terus gencar turun melakukan sosialisasi. Hal itu agar masyarakat dapat menjadikan aturan tersebut sebagai kebiasaan. Misalnya dalam penggunaan masker saat di luar rumah.

“Kami juga senantiasa menjadikan itu sebagai kebiasaan. Karena yang belum biasa menjadi biasa itu sulitnya,” kata Hebi saat ditemui di Balai Kota Surabaya (5/5).

Ia mengakui masih banyak pedagang yang tidak terbiasa menggunakan masker. Salah satu kendalanya suaranya kurang dapat didengar jelas oleh pembeli. Makanya, Hebi memberi solusi agar di setiap toko menyediakan kertas dan pembeli dapat menuliskan kebutuhannya tanpa harus membuka masker.

“Untuk menghindari itu PD Pasar Surya juga sosialisasi untuk menyediakan kertas biar pembeli bisa nulis,” lanjutnya.

Tak hanya menerapkan physical distancing di lingkungan pasar, Hebi menyatakan, setelah melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya alat pembayaran berupa uang kertas dan koin pun juga menjadi salah satu penyebaran virus. Oleh karena itu, demi keamanan dan keselamatan warga sebelum uang tersebut diterima diimbau untuk disemprot menggunakan disinfektan.

“Uang pun harus disemprot dulu sebelum dimasukkan di dalam tas. Jadi uang kertas dan receh ini juga berbahaya,” katanya.

Selain itu, kata Hebi, yang tidak boleh ketinggalan siapapun yang berlalu lalang di pasar juga wajib menggunakan masker tanpa terkecuali, terutama bagi para pedagang. Selain masker, mereka juga wajib menggunakan sarung tangan plastik.

Di sisi lain, Hebi juga meminta agar warga setelah melakukan aktivitas di pasar, setiba di rumah agar mandi. “Mohon sekali lagi masyarakat untuk langsung mandi setelah tiba di rumah,” paparnya.

Hingga saat ini, Hebi memastikan bahwa pihaknya melalui PD Pasar Surya terus melakukan pemantauan, termasuk di pasar tradisional lainnya. Meski bukan dikelola PD Pasar Surya, namun beberapa kali sudah dilakukan sosialisasi dan pembagian hand sanitizer kepada pedagang dan pembeli.

Ia menjelaskan apabila terdapat satu pasien confirm covid-19 di pasar, maka pasar tersebut akan ditutup sementara selama 14 hari sampai masa inkubasi. Seperti yang terjadi di beberapa pasar yakni Pasar Kapasan, Pasar Kupang Gunung dan Pusat Grosir Surabaya (PGS). Karenanya, ia berharap ke depan masyarakat lebih taat dan patuh dalam mengikuti protokol yang sudah ada.

“Untuk melawan covid-19 ini kita harus bersama-sama. Jadi mari bersama-sama menjadi bagian pemutusan wabah ini,” jelasnya.

Senada dengan itu, Direktur Teknik dan Usaha PD Pasar Surya, Muhibuddin menambahkan, ketika pasar ditutup, masyarakat masih tetap bisa berdagang melalui online. “Jadi yang diisolasi adalah pedagang dan aktivitasnya. Mereka masih bisa jualan online,” ungkapnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here