Aktivitas jual beli di salah satu stan di Pasar Wonokromo. Koordinator Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Wilayah Timur Pusat, Abraham Ibnu, pengiriman produk ke pasar tradisional tetap lebih disukai produsen dibandingkan di pasar modern.

SURABAYA – Koordinator Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Wilayah Timur Pusat, Abraham Ibnu mengatakan pasar tradisional masih disukai produsen dalam pengiriman produk. Karena di pasar tradisional langsung mendapatkan uang tunai dari pedagang dan bisa memastikan keberlangsungan usaha.

“Kalau produsen mengirimkan produk ke toko modern, mereka tidak langsung dibayar, dan harus menunggu sebulan setelahnya,” kata Abraham di Surabaya, Senin (1/4).

Abraham dalam acara Persaingan Pasar Tradisional Vs Modern mengatakan, digemarinya pasar tradisional oleh produsen membuat rotasi ekonomi pasar tersebut berlangsung cepat. Selain itu, penguasaan produk makanan cepat atau “Fast Moving Consumer Goods” (FMCG) dikuasai pasar tradisonal sekitar 72 persen, kemudian minimarket 22 persen dan 6 persen supermarket.

“Tingginya transaksi di pasar tradisional karena produsen makanan atau minuman, lebih suka berbisnis dengan pedagang di pasar tersebut. Pasalnya, rotasi keuangannya cepat,” katanya.

Karena itu, Abraham meminta tidak perlu diperbincangkan lagi keterkaitan antara pasar modern yang dianggap mengganggu pasar tradisional. Sebab, pasar tradisional dan modern tersebut memiliki potensi yang berbeda.

“Kedua pasar ini memiliki potensi masing-masing dan bukan bersaing. Selain itu, keduanya juga memiliki regulasi yang berbeda. Justru yang ada sekarang, banyak aturan yang membatasi pasar modern. Sementara untuk aturan pasar tradisional lebih longgar,” katanya. (*)

Sumber: www.antaranews.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here